oleh

Salib IYD Disambut Sukacita, Pendeta Lucky Rumopa Pertanyakan Makna Teologis “Baku Ovor” Salib

TopikSulut.com,Manado – Keuskupan Manado menjadi tuan rumah Indonesia Youth Day (IYD) atau Hari Orang Muda Katolik se-Indonesia tahun 2016. Kegiatan ini dibuka dengan Perarakan Salib IYD yang sudah dilakukan mulai awal tahun 2016 di Keuskupan Manado yang meliputi tiga Provinsi yakni Sulawesi tengah, Gorontalo dan terakhir yang menjadi tuan rumah iven IYD tahun 2016 Provinsi Sulawesi utara. Puncak kegiatan IYD tahun 2016 akan dimulai pada tanggal 1-6 Oktober 2016.

Dalam Penyambutan Salib IYD juga menunjukan betapa besar toleransi antar umat beragama yang ada di Indonesia khususnya di Keuskupan Manado Provinsi Sulawesi Utara.

Hal ini jelas terlihat saat penyambutan Salib IYD di Keuskupan Manado yang meliputi tiga Provinsi, Penyambutan Salib bukan hanya dilakukan oleh Umat Katolik saja melainkan dijemput oleh Pemerintah serta para pemimpin agama lain ikut juga mengambil bagian. Bahkan, Salib IYD ini juga turut singgah dan didoakan di Gereja golongan lain. Ini membuktikan toleransi antar umat beragama yang ada di Indonesia terlebih khusus di Kota Manado sangat erat.

iyd 7

Salah satu contoh yang bisa dilihat saat Salib IYD tiba di Kevikepan Manado yang dijemput langsung oleh Walikota Manado DR GS Vicky Lumentut, Uskup Manado Mgr.Yosef Suwatan,MSC, Ketua BKSAUA Kota Manado Pdt.Roy Lengkong,STH, Unsur Muspida, Para Tokoh Agama, Ribuan OMK yang ada di Kevikepan Manado, serta masyarakat yang punya golongan agama lain turut memeriahkan penyambutan Salib IYD di Kevikepan Manado tepatnya di Desa Paniki Baru.

Dalam sambutannya Walikota Manado DR GS Vicky Lumentut berharap Salib IYD dapat menjadi symbol Kerukunan antar umat beragama yang ada di Sulawesi Utara khususnya di Kota Manado.
“Salib IYD kiranya mampu menghilangkan sekat-sekat antar agama. Sehingga sebagai warga Kota Manado, kita akan terus hidup rukun berdampingan,”harap GSVL sapaan akrab Walikota Manado.

iyd 2

Walikota GSVL juga berharap Kegiatan IYD tahum 2016 dapat berlangsung sukses sehingga dapat membawa semangat baru yang bukan hanya untuk Umat Katolik melainkan seluruh golongan yang ada.

“Terlebih khusus bagi kaum muda, kiranya dengan kegiatan IYD ini, semangat untuk membangun Kota Manado untuk lebih baik dan aman akan lebih baik lagi kedepan, Terima kasih untuk semua pihak yang telah turut serta dalam perarakan salib IYD. Terlebih khusus bagi para tokoh umat dari berbagai golongan agama dan Muspida yang telah berjalan bersama dalam perarakan tadi,”ujar Walikota.

iyd 8

Namun disaat semua menyambut sukacita penyambutan Salib IYD di Kevikepan Manado, ada tanggapan yang kurang mengenakan oleh seorang Tokoh Agama saat Ketua BKSAUA Kota Manado mengupload prosesi penyambutan, pengarakan, serta penyerahan Salib IYD dari satu pihak ke pihak yang lain di Akun media sosial facebook.

Dalam komen social media facebook tersebut Oknum Lucky Rumopa Iwan yang dikenal sebagai seorang Pendeta mengatakan dengan dialeg Manado “Hahaha kurang rasa gili da lia ni salib baku baku ovor….hihihi apa depe makna teologis ini…???”

ok sip

Sontak, Pendeta Roy Lengkong yang juga Ketua BKSAUA Kota Manado yang mengupload foto tersebut langsung membalasnya dengan mengatakan “Pegang Salib kong Pdt bilang gili itu tanda pendeta gila, so nyanda ada rasa”.

Pendeta Roy Lengkong juga menjelaskan makna teologis yang dipertanyakan akun facebook Lucky Rumopa Iwan “Teologisnya mengantar anak muda menghayati teologi Salib yang artinya penderitaan yang membebaskan”

iyd 5

Saat dimintai tanggapan terkait komennya dalam media social facebook tersebut akun Lucky Rumopa Iwan mengatakan bahwa dirinya hanya bergurau
“sudah jo perpanjang itu Cuma bakusedu nanti mo baku salah torang dua”kata Rumopa lewat Inbox media social facebook.

Menanggapi akan hal ini Tokoh Agama Katolik yang juga Pastor Paroki St.Ignatius Manado Pst.Frans Mandagi,Pr menjelaskan, secara teologis Salib adalah simbol kemenangan bagi Umat katolik, Salib diarak dan diserahkan dari satu pihak ke pihak yang lain menjadi ungkapan persatuan, Semua orang yang percaya bersatu di bawah Salib tanda kemenangan Kristus atas Maut.

“Apa yang penting disitu bukan soal saling ovor Salib, tapi bahwa Salib diarak dari satu tempat ke tempat yang lain sebagai tanda semua pihak dan daerah mengalami sukacita kemenangan karena Salib itu,”jelas Mandagi. (Enal)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed