Peradilan Anak di PN Manado, Ini Pemaparan Hakim Imanuel Barru

● Jurnalis Meja Hijau dan PN Manado Gelar Diskusi Bersama

TOPIKSULUT.COM, MANADO – Anak sebagai generasi penerus yang akan melanjutkan kepemimpinan bangsa Indonesia, dimasa depan harus memperoleh perlindungan hukum dan perlakuan khusus yang layak menjamin kelangsungan hidup , tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Karena semua ikut bertanggung-jawab seperti masyarakat di lingkungan dimana dia dibesarkan, orang tua, pemerintah. Ini semua menjadi tugas bersama untuk membina anak-anak.

Melalui program Juru Bicara Hakim PN Manado diawal 2018, yang telah sukses digelar dalam bentuk diskusi bersama komunitas Jurnalis Meja Hijau (JMH). Jumat (2/2/2018).

Dalam kesempatan tersebut, Hakim Imanuel Barru telah bertindak sebagai narasumber atau pemateri. Dimana, hal yang disampaikan berbicara tentang seluk beluk peradilan anak secara umum dan khususnya di Pengadilan Negeri Manado.

Menurut penjelasan Barru, proses penanganan perkara anak dan pidana lainnya jelas memiliki perbedaan yang signifikan. Hal itu tertuang dalam perundang-undangan yang berlaku. Dimana, perlakuan terhadap anak di persidangan, berbeda dengan perlakuan orang dewasa yang bermasalah hukum.

“Perintah Undang-Undang wajib melindungi anak. Tidak boleh menggunakan kata terdakwa, cukup dengan kata anak,” terang Barru, salah satu Hakim di PN Manado yang telah memiliki sertifikasi Hakim Anak.

Lanjut, dirinya menambahkan bahwa penanganan perkara anak di persidangan bukan semata hanya dilihat dari perbuatan sang anak, melainkan lebih kepada esensinya sebagai seorang anak. Sehingga, sidang perkara anak selalu tertutup dan cepat.

Selain itu, Barru menuturkan kalau proses diversi sistem peradilan anak di tingkat pengadilan selalu mengacu pada dua hal.

“Untuk diversi ada dua hal yang dipertimbangkan Hakim. Pertama, anak belum pernah terlibat masalah hukum. Kedua, ancaman hukumannya dalam dakwaan di bawah tujuh tahun,” tutur Barru.

Ditegaskan pula, proses diversi tidak bisa terjadi jika pihak Penuntut Umum hanya mengajukan dakwaan tunggal yang ancaman hukumnya di atas tujuh tahun.

Lebih lanjut, Barru mengungkapkan kalau PN Manado sudah pernah memberikan diversi dalam perkara anak lebih dari satu kali di rentan waktu 2017.

Terpisah, Hakim Juru Bicara PN Manado, Vincentius Banar, saat dihubungi awak media, menjelaskan kalau diskusi bersama ini adalah program yang sengaja dirancang pihaknya setiap sebulan sekali, dalam rangka mensosialisasikan bagaimana sistem peradilan dan penanganan hukum di PN Manado.

“Kegiatan ini merupakan program yang digelar sebulan sekali, dengan menghadirkan berbagai narasumber sebagai bentuk sosialisasi sistem peradilan dan penanganan hukum PN Manado,” tandasnya.

Diketahui, Pengadilan Negeri (PN) Manado, telah resmi menjadi Pengadilan percontohan Ramah Anak dari lima pengadilan yang ditunjuk MA-RI (Mahkamah Agung – Republik Indonesia). Dengan diresmikan fasilitas pengadilan anak di Rabu (14/12/2016) silam. Anak disidangkan dalam ruangan sidang khusus anak dan ruang tunggu sidang anak dipisahkan dari ruang tunggu sidang orang dewasa.

Ini tidak lepas dari peran Sustain EU -UNDP sebagai fasilitator pendana-an.

Dengan model pengadilan ramah anak melalui bantuan konsultan, interior designer dan psikolog. (ely)