Diduga Kasus Akan Diendapkan, Para Orang Tua Korban Sepakat Ambil Langkah Tempuh Jalur Praperadilan

Diduga Kasus Akan Diendapkan,  Para Orang Tua Korban Sepakat Ambil Langkah Tempuh Jalur Praperadilan
Ketua POSBAKUM IKADIN/LPAI Sulut Adv EK Tindangen (paling kanan) dan rekan Jever Saerang saat bersama para Orang Tua Korban. Sabtu (3/3/2018). TOPIKSULUT/STasiam

• Dugaan Tindak Penganiayaan Berat terhadap 5 Anak Remaja oleh Puluhan Shabhara Polda Sulut

TOPIKSULUT.COM, MANADO – Kasus dugaan tindak pidana penganiayaan berat terhadap 5 anak remaja, diduga dilakukan puluhan anggota Sabhara Polda Sulut, akhirnya , para orang tua korban mengambil sikap akan menumpuh jalur pra-peradilan.

Pasalnya, para orang tua korban menyesalkan sikap penyidik Polda Sulut yang terkesan akan mengendapkan perkara.

“Untuk itu, Kami sepakat untuk melakukan upaya hukum pra peradilan saja. Kami mau kasus ini diproses seadil-adilnya, tanpa pandang bulu siapapun pelakunya,” tegas Wala yang diiyakan ayah para korbanF.Pelengkahu serta Yehezkiel Tumimomor kepada sejumlah media, Sabtu (3/3/2018).

Lanjut salah satu orang tua korban Rolan Wala, Ayah dari Revoy Wala. Jika dirinya telah menerima SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penelitian Laporan) tertanggal 1 Maret 2018 dengan no B/136/III/2018/Dit Rskrimum.

Dimana dalam laporan itu, tertuang untuk kepentingan penyelidikan dijelaskan pada pelapor Revoy Wala, bahwa sudah beberapa kali dihubungi pihak penyidik, pelapor terkesan kurang kooperatif, diharapkan kerjasama.

“Ini suatu pembohongan, saya hanya buruh kasar, masih sementara ba kerja dorang so telpon telpon salalu (Saya hanya buruh kasar, sementara bekerja saja, selalu di telpon telpon mereka, red),! tidak kerjasama bagaimana. So lalah , kasana kamari malah kita ini, supaya ada keadilan untuk anak saya, (Sudah capek saya ini, untuk supaya ada keadilan buat putraNya, red), malah dibilang begitu,” tutur Wala.

Menurutnya, kurang apa lagi, visum sudah dilakukan, dan keterangan juga sudah diambil, korban anak anak pun sudah diperiksa. “Anak saya telah dilakukan visum Et Repertum di Rumah Sakit Bhayangkara TK. III Manado pada tanggal 13 Desember 2017. Juga korban lainnya, Yeheskiel Tumimomor,” terang Wala.

Bahkan Kanit Frelly Sumampow dan Jhon Manurung sudah pernah datang ke rumah dengan tujuan ingin damai.

“Mereka para pelaku penganiayaan sering datang ke rumah kami, terakhir datang Kanit Frelly Sumampow dan Jhon Manurung. Mereka bilang ingin damai , selesaikan secara kekeluargaan, namun kami dari keluarga korban berprinsip kami ingin ada keadilan untuk anak anak kami, ” ujar Refoi Walla, jika kondisi fisik para korban, masih merasakan sakit di beberapa bagian tubuh. Berharap kasus dapat dituntaskan melalui proses hukum yang seadil-adilnya.

“Mereka (para pelaku penganiayaan) datang ke rumah , tentu kami tidak bisa melarang , namun kami ingin ada penyelesaian melalui proses hukum, karena penganiayaan yang dilakukan pada anak-anak kami adalah penganiayaan berat. Anehnya, ketika kami telepon penyidik mereka bilang tinggal tunggu keterangan orang tua, kami tidak mengerti maksud mereka itu!,” tambah Wala menepis jika dia dikatakan tidak kooperatif.

Pada kesempatan itu juga, Frangke Pelengkahu, salah satu orang tua korban mengatakan jika sudah pernah menghadap ke kantor polisi , dan tidak ada perkembangan. “Torang mo datang ka sana for apa? Cuma itu itu trus yang disampaikan ( Kami mau datang ke sana untuk apa lagi, hanya itu itu saja yang dikatakan penyidik),” keluh Palengkahu, sembari menambahkan menyesalkan perkara sudah sejak dari bulan desember, hingga saat ini belum ada penetapan tersangka. Hal itu juga senada dikatakan Ayah dari korban anak Yehezkiel Tumimomor.

Sementara, Ketua POSBAKUM IKADIN Sulut, Adv EK Tindangen mengatakan jika keputusaan para orang tua sudah tepat untuk tempuh praperadilan. Mengingat hingga saat ini kasus anak mereka hanya terputar putar dalam meminta keterangan.

“Saat para orang tua menyampaikan untuk sepakat praperadilan, ini sangat baik. Karena kasus ini tidak ada perkembangan, belum ada penetapan tersangka dan gelar perkara,” ungkap Tindangen.

Lanjut Tindangen, malahan mengejutkan karena salah satu dari lima anak yang jadi korban , orang tua Frits Kalalo sudah mencabut laporan, malah dituangkan dalam SP2HP.

“SP2HP bukannya memberitahukan jalannya kasus, malahan terkesan hanya pemberitahuan salah satu korban sudah mencabut laporan. Sebagaimana permintaan empat orang tua lainnya. Kami tim kuasa hukum segera secepatnya mempersiapkan dokumen yang akan diperlukan dalam persidangan nantinya, dalam proses praperadilan,” tutup Tindangen yang juga ketua LPAI Sulut ini, seraya mengatakan dalam bulan Maret ini akan segera didaftarkan untuk langkah praperadilan. (ely)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan