oleh

Kasus dugaan Penipuan, Susiati Akui Meminjam Uang Rp85 Juta

TOPIKSULUT.COM, MANADO – Kasus dugaan penipuan dan penggelapan, dengan terdakwa SS alias Susiati (50) warga lingkungan V Ranotana Weru, dalam periksa terdakwa mengakui telah meminjam uang pada saksi pelapor Fanny Suoth, dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Manado, Kamis (8/3/2018).

Dalam pemeriksaan terdakwa, diterangkannya. Jika memang ada biaya keterlambatan. Waktu tandatangan kwitansi di Mantos. Untuk peminjaman sudah memberitahukan pada suaminya Waktu di notaris dilampirkan KTP.

Dan memang untuk penandatanganan kwitansi an Anis (suami terdakwa, red) tapi yang ditandatangan oleh saksi Joothe. Terdakwa pun mengakui pinjam uang, terdakwa disodorkan kwitansi kosong.

“Saya memang meminjam uang akan tetapi tidak sejumlah Rp140 juta, saya hanya menerima Rp85juta karena ada potongan berupa komisi. Ditangan terima hanya 85 juta. Tidak ada denda keterlambatan yang menyebutkan 1 juta, akan tetapi dibayar ada bunga20 persen, dan diserahkan ke pelapor dihitung Rp12 juta untuk bunga,” akui terdakwa dihadapan majelis hakim yang dipimpin Vincentius Banar , Arkanu dan Djulita Masoora.

Diakui terdakwa, saat peminjaman ada agunan sertifikat rumah, ada pembicaran pinjam uang, pakai jaminan sertifikat. Terdakwa kenal pelapor dari makelar, dan kemudian dipertemukan ke pelapor.

Saat menjawab pertanyaan JPU, jika ada niat untuk mengembalikan uang.

“Sertifikat terdakwa masih ditangan pelapor, ada ketemuan dengan pelapor, jika ada niat akan segera dikembalikan akan tetapi untuk mengembalikan, tapi tidak ada, karena “tidak ada” uang,” jawab terdakwa memelas. Sembari menambahkan memang ada perjanjian tiga bulan untuk mengembalikan pinjaman. Dan selama ini belum dikembalikan, bunga tetap berjalan.

Usai mendengar keterangan terdakwa, sidang kemudian ditutup dan akan dilanjutkan pada Kamis (15/3/2018) dengan agenda tuntutan.

Diketahui, perbuatan terdakwa sebagaimana dalam dakwaan, dalam kurun waktu 2014, 1 Desember 2014 dan kedua 3 Desember 2014. Awalnya terdakwa mau pinjam uang kepada pelapor akan tetapi belakangan terjadi pembicaraan , korban dan terdakwa membuat surat pembicaraan untuk membuat surat kuasa menjual rumah.

Saat ada pembicaraan itu, turut hadir saksi Olwin Rantung, orang tua korban, dan ada beberapa orang lain.

Dimana sertifikat rumah yang dikuasakan pada pelapor beralamat dikelurahan Ranotana, luas 262m2 atas nama terdakwa Susi, dan ada pembicaraan pinjam uang yang akan dikembalikan pada tanggal 1 Maret 2015. Ada pun surat dibuat dihadapan notaris Ratna Jusuf SH M.Kn.

Dan kemudian saksi korban menyerahkan uang pada terdakwa sebesar Rp130 Juta, dibuatkan kwitansi didepan kantor notaris, tepatnya dilapangan parkir dan kedua juga dibuatkan kwitansi , dirumah korban, di Romboken sebesar Rp12 juta.

Terdakwa menggunakan kata kata pada korban, jika akan mengembalikan uang dengan waktu tidak terlalu lama, dan juga saksi Anis (Suami terdakwa) dibuat seolah olah hadir dalam pembuatan surat kuasa di notaris dengan menghadirkan saksi Jootje yang berperan seolah olah suami terdakwa dan ikut bertanda tangan.

Parahnya, hingga saat ini uang saksi korban belum dikembalikan terdakwa, sehingga dilaporkan untuk diproses hukum. Oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Laura Anneke Tombokan SH, terdakwa dijerat pasal 372 dan 378 KUHP. (ely)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed