Penahanan Junjungan Dibantarkan untuk Lanjut Rawat Inap ke RSCM Jakarta

TOPIKSULUT.COM, MANADO – Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri (PN) Manado memberi izin terhadap terdakwa kasus dugaan korupsi proyek pemecah ombak di Desa Likupang II Minahasa Utara (Minut) – Sulawesi Utara, mantan direktur tanggap darurat BNPB pusat, Junjungan Tambunan untuk lanjut rawat inap ke Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta.

Penetapan pengadilan untuk pembantaran penahanan ini diputuskan dengan mempertimbangkan hasil pemeriksaan dokter, rekam medis, permohonan keluarga.

Juga sebagaimana pengamatan para majelis hakim yang telah langsung sidang setempat ke RS Advent Teling- Manado melihat perkembangan kesehatan terdakwa, Jumat (13/7/2018) pagi sekitar pukul 09.30 Wita.

Usai sidang setempat pada hari yang sama, persidangan masih dilanjutkan ke PN Manado, dengan Ketua Majelis Vincentius Banar SH MH dengan anggota Arkanu SH MHum dan Adhoc Edy Darma Putra SH MH, PP Ni Ketut Susan SH mendengar pendapat dokter terkait perkembangan sakit yang diderita terdakwa.

Menurut dokter, sebagimana dalam rekam medis, dan dalam penanganan-nya, terdakwa dalam keadaan sakit berat.

Dikatakan Dr Halim Endru Ciakaren , jika kondisi pasien telah mengalami penyumbatan pembuluh darah di kaki mencapai 80 persen, dan bisa menyebabkan kematian.

“Penyumbatan pada pembuluh darah di kaki sudah lebih dari 80 persen, sudah lebih sedikit kematian jaringan, gejala tiba tiba mati rasa, dingin kayak mayat. Kematian organ dan jika tidak ditangani secepatnya akan membusuk, dan organ tersebut bisa diamputasi,” terang dokter di RS Advent Teling ini.

Diceritakan, jenis penyakit ini pemicu sakit jantung dan diabetes. Dalam kondisi terdakwa, dibagian kaki tepatnya pergelangan ada penyempitan pembuluh darah, dan sekitar area tersebut sudah putus jaringan pembuluh darah (mati,red).

Hal itu menyebabkan suplay makanan melalui pembuluh darah terputus bahkan obat obatan yang diberikan tentu saja tidak akan berfungsi baik karena jaringan pembuluh darah yang mati. Diibaratkan kondisi ini sudah seperti mayat hidup.

“Jalan satu satunya, operasi, dengan cara dibor, untuk pemasangan balon dan ring di pembuluh darah di kaki sebagai alat untuk memasukkan obat berfungsi baik,” ungkap dokter.

Usai mendengar keterangan rekam medik terdakwa tersebut, Ketua Majelis kemudian menyatakan mengabulkan permohonan terdakwa untuk kontrol/berobat ke RSCM.

“Kami majelis hakim tidak akan menghalangi terdakwa untuk berobat, terlebih dengan kondisi tersebut. Untuk itu, pengawalan dari pihak kejaksaan dan agar jaksa melaporkan perkembangan kesehatan terdakwa, minimal satu minggu sekali,” singkat KM Banar kepada pihak keluarga yang juga hadiri sidang , dan JPU Pingkan Gerungan.

Hakim Banar kemudian mengetuk palu tanda sidang ditutup.

Informasi yang didapat, terdakwa dari RS Teling Manado, Sabtu (14/7/2018) hari ini, segera bertolak ke RSCM di Jakarta untuk pengobatan lanjutan, hal ini sebagaimana kontrol kesehatan terdakwa di rumah sakit tersebut. (ely)