oleh

Tulis Surat Terbuka, Sekretaris KNPI Manado Harap Presiden Tidak Membawa Agenda Terselubung di Kongres KNPI

PEMUDA Indonesia sedang mengalami krisis keteladanan dan tak henti mencari role model. Kondisi itu terlihat sekarang dengan adanya dualisme di internal Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang kemudia berimbas terhadap tidak ditempatinya Sekretariat DPP KNPI di DKI Jakarta, inilah potret buram yang juga ironi bagi kita pemuda.

Melalui momentum Kongres KNPI XV di Forest Hotel Jl. RE Sumartadireja No. 99 Bogor yang dijadwalkan tanggal 18 – 21 Desember 2018, diharapkan Presiden Republik Indonesia (RI) Ir Joko Widodo (Jokowi) dapat menghadirinya dengan syarat. Tidak membawa agenda terselubung (covert agenda) dalam arena Kongres, hal tersebut dimaksudkan sebagai ikhtiar.

Kecurigaan kita cukup beralasan dengan adanya intervensi pemerintah atas pertumbuhan dan eksistensi organisasi kepemudaan di Indonesia. Cukup membaca dualisme organisasi, konflik internal organisasi yang kebanyakan indikasi terbelahnya memiliki hubungan dengan intervensi serta support kekuasaan.

Agenda tersembuyi (hidden agenda) pemerintah memang tidak selamanya angker, jahat dan destruktif Pak Presiden, tapi kebanyakannya ‘menumpulkan’ nalar kritis bagi pemuda. Pemerintah memang dilain pidak memerlukan sinergi, sinkronisasi dan harmoni dalam kerja bersama Ormas/OKP, namun kenyataannya sering kita temui intervensi membawa mudharat yang menyandera independensi organisasi.

Sebagai pengurus KNPI di daerah kami tentu bangga, haru dan mengapresiasi niat baik, wujud kearifan, kepekaan, dan bagian dari pelayanan pemerintah, jika Presiden Jokowi meluangkan waktunya untuk hadir dalam Kongres di Bogor ini. Walau pun, mutasi Kongres ini tidak sedikit meninggalkan luka dan kekecewaan di daerah, terutama bagi para Pemuda/KNPI Aceh.

Kehadiran Presiden Jokowi juga merupakan bagian dari political will (kemauan politik) yang baik, setidaknya pemerintah sudah mulai mendeteksi dan mendekati starting point guna mencari solusi atas stagnannya gerakan pemuda. Bahkan, tidak stagnan saja, lebih dari itu pemuda/KNPI mengalami degradasi prestasi.

Pada Kongres yang mengusung tema: Satu PEMUDA, Satu INDONESIA, Satu Dalam PERBEDAAN, diharapkan menjadi kekuatan dan energi baru bagi KNPI. Bukan mengambil tema dari hasil rekayasa kondisi, atau jualan kata-kata inspiratif, melainkan betul-betul persatuan pemuda dan perbedaan itu diinternalisasi dalam nafas pemuda.

Artinya, hal-hal teknis dan redaksional itu bukan sekedar retoris. Kita semua menghendaki substansinya, merindukan pemuda Indonesi bersatu, meramaikan Kongres dengan festival gagasan berkualitas. Bukan saling tikung, menggadaikan komitmen persahabatan, menumbuhkan hubungan intim politik oportunis. Kongres kali ini menjadi bagian penting bagi Pak Presiden Jokowi, karena diakhir jabatannya, kita berharap ada progress yang luar biasa setelah Kongres ini dilaksanakan.

Jangan lagi ada praktek saling sandera kepentingan, justeru dengan perilaku yang seperti itu membuat pemuda Indonesia terpolarisasi. Terbawa arus dan gelombang pragmatisme, Presiden Jokowi harus tegas menghentikan produksi kebencian serta sentimen ditengah pemuda Indonesia, bagaimana pun KNPI adalah wadah berhimpun dan menjadi pelopor bagi OKP lainnya.

Proyek politik Presiden Jokowi yang perlu dibangun tidak lain yakni mengkonsolidasikan KNPI, bantu merekonstruk citra KNPI agar lebih dicintai, tidak dianggap organisasi tabu yang bahayanya hampir mirip organisasi yang dicap radikal-teroris. KNPI wajib kembali ke khittah, karena garis besar perjungannya adalah bersama pemuda.

Lahir atas konsensus bersama, bukan melahirkan firkah-firkah atau kelompok dan golongan–golongan didalamnya. Faksi di KNPI melahirkan sekat yang hampir sulit membuat pemuda Indonesia kembali seperti rujukan tema Kongres tahun ini yakni satu pemuda dan satu Indonesia. Kita semua, termasuk pemerintah tak boleh pesimis dengan keadaan serta permasalahan akut di internal KNPI, melainkan berfikir keras, cerdas dan bertindak bijak.

Riwayat perpindahan Kongres dari Aceh ke Bogor juga menjadi patahan sejarah bagi KNPI, yang memiriskan. Bukan bermaksud memperuncing konflik, melainkan menjadikan ini sebagai sejarah kelam yang patut sama-sama kita kutuk. Jangan lagi terulang kedepannya, berangkat dari semangat kolektif, mestinya semua tahapan Kongres dilaksanakan dengan semangat persatuan, pengintegrasian perbedaan.

Tan Malaka tokoh intelektual dan pejuang Indonesia pernah menyebutkan idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda. Bila kini idealisme menjadi tergerus, terkikis dan tergadaikan, maka apalagi yang patut kita banggakan?. Tong sampah menjadi tempatnya pemuda kalau sudah begitu. Realitas ini mestinya juga dijawab Presiden Jokowi dengan ikut mendamaikan, ramah, lentur, toleran dan mendudukkan perbedaan pemikiran pemuda.

Tidak melahirkan tembok baru, tidak menyemai atau menciptakan peternakan baru bagi pemuda yang kemudian mereka-mereka ini melanggengkan perselisihan. Pemuda sekali lagi bukan pewaris konflik, pemuda bukan entitas yang anarkis, tapi agen damai, menjadi lokomotif perubahan. Artinya perubahan itu sangat identik dengan keberadaan pemuda.
Pemuda menjadi corong dari suara-suara pembaharuan.

Presiden Jokowi, akan kita tantang untuk menjadi wahana, lintasan, bengkel dan jembatan bahkan ‘surga’ bagi pemuda untuk bisa bersatu lagi. Sebab, citra dan stigma buruk sudah terlanjur teralamatkan kepada Anda Pak Presiden, bahwa rezim kali ini ialah rezim yang gemar melahirkan dualisme.

Lihat saja dualisme parpol, dualism Ormas, dan fenomena standar ganda lainnya. Tampaknya, mahkota pemuda yakni idealisme terus menjadi sasaran ‘jualan’ murahan yang efeknya sangat negatif. Maaf, tidak perlu Presiden Jokowi berfikir dengan hadir di Kongres KNPI lalu menambah elektabilitas dan memanfaatkan untuk kepentingan electoral politik, karena bargaining itu tidaklah menjadi garansi.

Era kebangkitan yang kita nantikan, jikalau sebelumnya para senior-senior kita telah mencapai predikat dan masa kejayaan, keemasan pemuda, masa pencerahan sudah mereka lewati, berarti tugas kita sekarang adalah merebut kembali itu. Konteks ini memang soal interpretasi dan melibatkan peran subyektifitas, lepas dari semua itu, yang terpentingnya kita merindukan KNPI satu.

Silahkan akhiri sampai disini dualisme dan praktek ambigu lainnya di KNPI, sebab itu cenderung kurang elok. Kita menghendaki peradaban pemuda yang mulia (tamadun), bukan kembali kepada kejahiliyahan, dimana kolonialisme dan konspirasi tumbuh subur disana. Pemuda harus lebih mengalami progress dalam gerakannya, baik secara individu maupun organisatoris, bukan hanya pribadi-pribadi generasi KNPI yang diuntungkan dalam tiap kali Kongres, lalu organisasi KNPI dibiarkan berantakan.

Marwah KNPI sebagai wadah pemuda bukan menjadi gaya-gayaan kita, begitu pula dengan penerapan undang-undang kepemudaan juga menjadi perhatian serius kedepannya. Hal tersebut dimaksudkan, bagi yang sudah uzur di KNPI tapi masih senang berKNPI, harus realistis dan angkat kaki meninggalkan KNPI.

Silahkan membentuk wadah Korps Alumni-KNPI. Organisasi yang kita bangga-banggakan ini sudah mengalami kemerosotan memang, konsolidasi internalnya kurang optimal, tidak terstruktur. KNPI harus menggema sampai ke Desa-Desa/Kelurahan rupanya belum berjalan baik, ini bukan bermaksud mengekspos aib organisasi, namun mengangkat ini sebagai obrolan untuk dicarikan solusinya. Perlu penguatan gerakan, perlu adanya keselarasan ucapan dan perbuatan di KNPI.

Kita berharap Presiden Jokowi yang adalah ‘babu rakyat’ memberi perhatiannya secara serius kepada KNPI. Tugas terberat DPP KNPI untuk kembali menduduki, memfungsikan Sekretariat KNPI penting menjadi skala prioritas, jangan buat KNPI seperti ayam kehilangan kepala. Selebihnya, bagun komunikasi yang seimbang, leburkan sekat, bangun semangat kolektif untuk kemajuan bersama KNPI, minimalisir atau kalau mampu direduksi birahi kapitalisme yang diwujudkan dengan praktek pragmatisme di tubuh KNPI.

Karena praktek barter kepentingan, bargaining politik, bukan menjadi identitas kita, bukan pula menjadi tradisi agung bagi pemuda. Bayangkan saja, bila praktek destruktif itu terus dipelihara, maka generasi muda terbaik yang kaya prestasi tapi tak punya uang (financial) tidak akan mendapat giliran memimpin KNPI, sebagai Ketua Umum.

Pesan terakhir untuk Pak Presiden Jokowi, jangan berani-berani Anda ikut ambil alih kontestasi Kongres KNPI. Apalagi melepas stuntman, seumur hidup Anda akan punya dosa sejarah karena akan diberi label buruk, itu bukan ranah Anda. Kroscek juga, ada oknum-oknum yang sering kali memakai nama dan jabatan Anda untuk kepentingan politiknya, tolong dihentikan, berikan sikap tegas.

Bila Anda ikut campur demi kepentingan Pilpres 2019 Pak Presiden, itu berarti Anda berani berhadapan dengan jutaan pemuda yang idealis. Mereka yang tidak mau berkompromi dengan politik praktis dan sudah tentu melawan manakala KNPI diatur-atur penguasa, biarkan KNPI punya ritme sendiri. KNPI menjadi mitra kritis pemerintah, mitra yang strategis, konstruktif dan menjadi musuh Anda jika pemerintah yang Anda pimpin sekarang atau kelak menindas rakyat.

Biarkan para pemuda-pemuda dari daerah ini bertarung dengan strataknya. Dengan kemampuan meyakinkan para pemilih, mereka akan terpilih karena trust, bukan karena godaan kepentingan sesaat. KNPI harus betul-betul kembali menjadi rumah besar pemuda Indonesia, dan utuh menjadi satu, bukan dua apalagi tiga.

Jangan berani Presiden Jokowi membuat skandal di Kongres KNPI sebab sama saja ia menggali kuburannya sendiri, kebesaran dan prestasi yang tengah dibangun akan menjadi buruk. Skandal yang dimaksud yaitu berupa intimidasi, intervensi kekuasaan untuk memenangkan calon Ketua Umum KNPI tertentu, permainan uang dan seterusnya. [***]

Manado, 16 Desember 2018.
____________________

Amas Mahmud,S.IP (Sekretaris DPD KNPI Manado)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed