oleh

Petani Kelapa Wajib Baca, Kadis Perkebunan Sulut Angkat Bicara Soal Harga Kopra

Topiksulut.com, PEMERINTAHAN –Terkait harga komoditas andalan bumi Nyiur Melambai yaitu Kopra, Kepala Dinas Perkebunan Daerah Provinsi Sulawesi Utara Refly Ngantung menghimbau kepada para perani Kelapa untuk tidak hanya berpatokan kepada Kopra saja sebagai penghasil, tapi juga pada fungsi lain dari buah kelapa itu sendiri.

“Jangan hanya bergantung pada olahan kopra, cobalah fungsi turunan yang lain seperti olahan untuk minuak kelapa atau dijadikan gula merah, itu lebih menguntungkan, atau bisa juga menjual kelapa muda, yang jelas harganya jauh lebih tinggi”, himbau Ngantung saat dikonfirmasi awak media di lobi kantor Gubernur Sulut (15/06/2019).

Ngantung pun dalam kesempatan tersebut mendorong para petani kelapa untuk berimprovisasi dari hasil pertanian kelapa yang di olah menjadi kopra untuk dikembangkan lagi.

“Saya mendorong para petani untuk berimprovisasi, karena dengan hanya mengandalkan olahan kelapa menjadi kopra saat ini kurang menguntungkan, makanya coba dibuat olahan turunannya seperti minyak kelapa atau gula merah, jika dihitung akan lebih menguntungkan para petani”, sambungnya.

Untuk itu, Ngantung kepada awak media membeberkan bahwa saat ini selain mencaei solusi terkait merosotnya harga jual kopra, pemerintah dibawah komando Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw, bakal membangun kurang lebih 24 unit alat pengolah minyak kelapa yang akan diperuntukkan bagi para kelompok petani kelapa yang tersebar di Kabupaten, terlebih di wilayah sentra kelapa.

“Jadi, sembari mencari solusi soal harga kopra, di 2019 ini kami akan membuat 24 unit mesin pengolah kelapa menjadi minyak kelapa yang akan dibagikan kepada para kelompok tani di sulut terutama yang ada di sentra-sentra perkebunan kelapa”, beber salah satu putra asli Minahasa tersebut.

Menurut Ngantung, hal ini juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah yang cukup menguntungkan baik kepada para petani kelapa maupun masyarakat.

“Ini akan cukup mendongkrak perekonomian daerah yang bersentuhan secara langsung dengan masyarakat”, tegasnya.

Hal itu dipercaya Ngantung setelah mengkalkulasi keuntungan dari hasil pengolahan kelapa menjadi minyak dalam hintungan harian.

“Contoh saja, dari 24 unit alat pengolah kelapa para petani dapat menghasilkan sebanyak 80 liter minyak kelapa per hari dengan perincian 10 buah kelapa menghasilkan 1 liter minyak kelapa, dengan harga Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu. Itu berarti 1 buah kelapa dihargai Rp. 2.500.

Sedangkan bila kelapa diproduksi menjadi kopra, dalam 1 Kg butuh 5 buah kelapa dengan harga jual kopra Rp 3.000 sampai Rp 4.000/Kg. Itu berarti untuk 1 buah kelapa dihargai Rp. 800-an, bila dipotong ongkos kerja, bisa jadi harga 1 buah kelapa hanya Rp.500”, jelasnya.

Tidak hanya itu, Ngantung pun mengajak seluruh masyarakat Sulawesi Utara untuk terus mengkonsumsi produk daerah yaitu minyak kelapa. Karena menurutnya minyak daerah ini kaya akan kandungan positif dibandingkan minyak yang lain.

“Mari kita terus gunakan produk daerah, karena minyak kelapa kita selain bagus, juga mengandung banyak kelebihan seperti struktur kandunhan kaya gizi, kaya akan protein serta memiliki anti oksidan didalamnya”, ajaknya. (CHRIS)

News Feed