371 Orang ODP, 1 Positif, dr Tarura : Penyebaran Covid 19 di Sulut Menggelisahkan

TopikSulut,Manado- Data sementara Satgas Covid-19 Provinsi Sulut mengungkapkan bahwa sejak Januari 2020 terdapat 495 Orang Dalam Pemantauan (ODP), 13 Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan 1 pasien dinyatakan positif Covid-19.

Dr. dr Suryadi Nicolaas Napoleon Tatura, Sp. A (K)

Hingga Jumat(20/03/2020), Satgas Covid-19 Sulut telah menyelesaikan pemantauan terhadap 124 ODP dan tersisa 371 ODP untuk dipantau. Dari jumlah tersebut, 13 PDP, 8 pasien berdasarkan hasil laboratorium sudah dinyatakan negatif dan kini tersisa 5 (PDP).

Ditambah dengan kriteria kasus yang baru yakni pelaku perjalanan ke negara dan daerah episentrum Covid-19 dengan tanpa gejala. Self monitoring harus dilakukan untuk kriteria ini.

Terkait data tersebut, Dokter Anak Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis yang merupakan anggota American Society of Tropical Medicine and Hygiene (ASTMH) dan anggota European Society Pediatric Infection Disease (ESPID) Dr. dr. Suryadi Nicolaas Napoleon Tatura, Sp. A (K) menilai bahwa kondisi penyebaran virus Corona (Covid-19) di Sulawesi Utara cukup menggelisahkan.

” Data dan fakta yang ada saat ini tidak sesuai dengan teori kecepatan transmisi sebuah penyebaran virus SAR Cov-2 dimana virus ini sangat contangious atau sangat menular dan memiliki cara penularan yang unik yaitu dapat melalui droplet (percikan ludah atau bersin) dan dapat bertahan di udara 3 jam, di bahan bahan terbuat kayu dan kaca seperti meja dan pegangan tangga selama 4 hari. Diperkirakan harusnya kalau ada satu orang positif dan tidak diisolasi, maka dapat menularkan lebih dari minimal 4 orang, tergantung seberapa banyak orang yang kontak erat yaitu berjarak 1 meter bahkan beberapa literature mengatakan sampai 1,8 meter,” kata Dr Didi sapaan akrabnya, Sabtu (21/02/2020).

Menurut Dr Didi, sebaiknya, ODP dan kontak erat harusnya diperiksa supaya deteksi lebih dini . Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan deteksi atau uji virus corona Covid-19 melalui adalah real-time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dilanjutkan sequencing untuk mengonfirmasi diagnosis infeksi Covid-19.

“Di RSUP Prof Dr. RD Kandou, Manado sudah memiliki RT-PCR yang dahulu sudah pernah digunakan saat terjadi Pandemi Flu Burung. Alat ini dapat juga dipakai untuk mendeteksi Covid-19 bila dimaksimalkan dengan menyediakan primer dan reagen yang dibutuhkan, apalagi kalau disupervisi langsung oleh Litbangkes yang sudah berpengalaman dalam pemeriksaan ini,” ujar Koordinator Penelitian Bagian Anak FK Unsrat di Fakultas Kedokteran Unsrat Manado ini.

“Alat yang lebih sederhana adalah Gen expert yang juga sudah dimiliki oleh Sulut. Bisa dimaksimalkan, jadi tidak semata mata mengandalkan SDM dan alat dari Pusat atau Jakarta seperti selama ini dilakukan,” jelasnya.

Solusinya, dikatakan Dr Didi dengan memaksimalkan segala potensi baik sumber daya dan sarana prasarana lintas sektoral di Sulut dapat meningkatkan keakuratan jumlah orang positif dan pemetaan secara epidemiologi daerah terjangkit sehingga akan menigkatkatkan pula ketetapatan strategi kebijakan Pemerintah di Sulut dan Nasional untuk memerangi COVID 19 ini.

Dan selanjutnya dapat menilai apakah sudah saatnya dilakukan Lockdown atau tidak. Lockdown bisa dilakukan seperti di Italy dan Perancis dimana masyarakat masih bisa keluar rumah dengan ijin aparat, begitu juga toko-toko yang menyediakan kebutuhan pokok tetap diijinkan dibuka.

Yang paling ektrem seperti dilakukan di kota Wuhan, China dimana masyarakat benar benar tidak bisa keluar dari rumahnya. Hal ini dapat dilakukan jika sudah tergolong daerah resiko sangat tinggi.

” Jika deteksi dini ini menjadi sebuah kebijakan, tentu akan bisa mempercepat Pimpinan Daerah dalam hal ini Gubernir untuk mengambil kebijakan strategis yang diperlukan, ujar Dr Didi yang juga merupakan Ketua subbagian Infeksi Tropik Ilmu Kesehatan Anak FK Unsrat

Dr Didi mengingatkan penderita yang tidak bergejala akan menjadi seperti fenomena gunung es. Ketika terlambat dideteksi akan menyebabkan lonjakan yang tak terkendali. “Jangan panik yang penting higienitas diri, sanitasi lingkungan dan social dinstance sesuai anjuran pemerintah,” pungkasnya. (hzq)