Dr Pitter : Pasien Diduga Covid-19 Datang Tanpa Didampingi Petugas Dinas Kesehatan Bitung

TopikSulut,Bitung- Piha RSUD Manembo-nembo melalui direkturnya, dr Pitter Lumingkewas memberikan klarifikasi terkait adanya dugaan pasien covid-19 yang datang ke rumah sakit pada Selasa, (7/4) malam.

“Awalnya saya dapat laporan ada orang yan dicurigai Covid mau diantar ke rumah sakit. Saya inisiatif telepon Kadis Kesehatan konfirmasi sekalian minta agar pasien didampingi agar proses hand over pasien baik. Sehingga petugas di Ruang Isolasi sudah diinstruksikan pakai APD level.3. Sedangkan untuk security dan petugas skrining di depan pintu IGD pakai APD level 1 dan 2,” jelas Lumingkewas, Kamis (9/4).

Kata Lumingkewaa, menurut infofmasi, pasien akan datang jam 24.00 tapi jam 23.00 lewat sedkit, pasien sudah ada didepan pintu IGD dan melapor ke petugas skrining didepan IGD. “Kebijakn RSUD, semua pasien yg masuk IGD diskrining dulu didepan pintu. Petugas kami pun melakukan skrining. Tapi kami kaget juga karena pasien datang tanpa pendampingan dari petugas Kesehatan dari Dinas, sehingga tidak ada hand over antar petugas plus pasien juga kurang paham kenapa dia disuruh ke rumah sakit juga ke IGD jalan kaki dr parkiran, alias tanpa ambulance dengan 3 orang pengantar,” katanya.

Karena tanpa hand over antar petugas juga pasien kurang paham kenapa dia disuruh ke RS ditambah perasaan tidak senang soal prosedur saat datang kata dr Pitter sapaannya, jika tidak segera datang akan dijemput petugas kesehatan dan Polisi besok hari.

“Ketidakpuasan pasien kenapa dia dipulangkan karena dia sudah pegang hasil negatif dan sudah berinteraksi dengan keluarga dan teman-temanya, tapi sekarang disuruh ke RS lagi karena curiga Covid ini. .akanya yang bersangkutan dari depan pintu IGD nada bicaranya sudah tinggi. Kemudian diarahkan ke ruang isolasi. Hasil pemeriksaan, pasien sudah tidak ada gejala dan tanda dan tanda vital baik. Tapi disini pasien memaksa meminta hasil pemeriksaan segera dan jika mau periksa yang dari Dinas Kesehatan, langsung priksa saat itu juga supaya bilang positif atau negatif,” jelasnya.

Tapi tapi tambah dr Pitter, tengah malam begitu petugas rumah sakit hanya sampaikn karena pasien tidak bergejala, lebih berdiam diri saja di Ruang Isolasi RS nanti tunggu pagi, karena semua yang diminta pasien, semuanya bukan kewenangan dan tidak ada datanya satupun di RS Manembo-nembo Bitung sehingga petugas RS tdk bisa jawab apa-apa serta tidak mungkin mau cari info di tengah malam seperti itu.

“Pasien marah-marah dan beri limit waktu 20 menit. Karen tetap pegawai tidak bisa jawab dan tindak lanjuti pasien yang awalnya marah-marah, mulai mengamuk dan mengancam membunuh, kalau bilang positif, karena dia selalu bilang dia negatif dengan menunjukan bukti hasil pemeriksaannya, sehingga petugas-petugas RS saat itu diliputi ketakutan doble.

Karena ancaman dan rasa takut jika seandainya yang bersangkutan benar Covid-19,” ujarnya. Petugas RS kata dr Pitter, memahami tekanan yg dialami oleh pasien karena itu manusiawi apalagi ditengah arus informasi media sosial yang keblabasan sehingga Slstigma negatif bagi penderita atau bahkan yg dicurigai Covid bahkan sampai yang meninggal sekalipun. “Dampak Covid ini benar-benar sangat luar biasa, banyak mungkin melihat mereka seperti setan turun dari nera. Kasihan para pasien, kasihan para petugas RS, karena Covid dan info-info efeknya secara manusiawi tetap ada ketakutan tapi karena tugas tetap memaksakan diri bertugas, akhirnya terima getah dari kemarahan meminta periksa dan konfirmasi yang tidak mungkin dilakukan dan tidak mungkin dijawab karena bukan kewenangan mereka. Sudah begitu, kami masih dibuli,” pungkasnya. (hzq)