Kasus Dugaan Korupsi di DKP Bitung Segera Dilimpahkan Ke Pengadilan

TopikSulut,Bitung- Kasus dugaan korupsi Dana Tugas Pembanutuan di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bitung, yang sementara ditangani pihak Kejaksaan, segera masuk ke Pengadilan.

Kasie Intel. Kejari Bitung, Budi Kristiarso, SH.

Hal ini dikatakan Kasie Intel Kejari Bitung, Budi Kristiarso, SH selasa (19/5/2020). ejaksaan menurutnya berkomitmen menuntaskan kasus korupsi yang sementara ditangani tersebut. Pandemi covid-19 yang tengah berlangsung tak menghalangi proses penegakan hukum.

“Kasus di DKP tetap jalan, malah sudah hampir rampung,” jelasnya. Budi mengaakan, jika kasus itu sudah dinyatakan P21 atau proses penyidikannya telah lengkap. Dengan begitu, dalam waktu dekat ini akan masuk ke tangan penuntut umum.

“Karena penyidiknya kita jadi pelimpahannya di internal kita. Kan yang jadi penuntut umumnya Jaksa. Pokoknya dalam waktu sudah masuk ke penuntut umum dan dakwaannya segera disusun,” terangnya.

Untuk tiga tersangka dalam kasus ini kata Budi, belum menjalani penahanan. Penyidik punya pertimbangan sendiri sehingga mereka masih bisa menghirup udara segar. “Yang jelas ada waktunya,” ucapnya tanpa membeber alasan belum melakukan penahanan.

Seperti pernah diberitakan sebelumnya, tiga tersangka dalam kasus ini terdiri dari perempuan LM alias Liesje, perempuan FM alias Ferin, dan lelaki FP alias Frans. Ketiganya memiliki kapasitas berbeda saat kasus terjadi. Liesje merupakan Kepala DKP Pemkot Bitung pada waktu itu, sedangkan Ferin tercatat sebagai dan bawahannya. Adapun tersangka Frans sebagai pihak rekanan yang jadi mitra DKP Pemkot Bitung.

Perihal penanganan kasus ini, salah satu pegiat LSM di Bitung, Sany Kakauhe, memberikan dukungan terhadap kinerja Korps Adhyaksa. Ia mendorong Kejari Bitung menuntaskan kasus itu dan mengungkapnya dengan terang-benderang.
“Harus sampai ke pengadilan. Kepemimpinan Ibu Kajari yang sekarang (Ariana Juliastuti,red) jarang terlihat ada gebrakan penanganan kasus korupsi. Apalagi dengar-dengar dalam waktu dekat sudah akan dimutasi, jadi anggaplah ini persembahan terakhir sebelum pindah tugas,” tutur Sany menyampaikan dukungan sekaligus harapan.

Seperti diketahui, kasus dugaan korupsi ini terjadi selang tahun 2015 hingga 2016 lalu. Total kerugian negara dalam kasus itu mencapai ratusan juta rupiah. Kerugian muncul karena pengadaan peralatan yang direncanakan, salah satunya mesin fishmeal, tidak sesuai dengan spesifikasi. Hal itu terbukti dengan tidak dioperasikannya mesin tersebut. (hzq)