Divonis Ringan, Firmansyah Tak Puas Putusan Hakim

TOPIKSULUT.COM, MANADO – Persidangan perkara penganiayaan dengan Terdakwa Firmansyah S Laotambuwun SH terhadap korban wanita Sartje M miliki putusan dengan majelis hakim memutuskan dua bulan penjara , hukuman percobaan satu tahun. PN Manado, Senin (3/9/2018).

“Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam pasal 351 ayat (1) KUHP, dengan hukuman dua bulan , percobaan satu tahun, ” ujar Ketua Majelis (KM) Hj Halidjah Wally, dkk dalam amar putusan.

Sebelumnya dalam pertimbangan majelis hakim diuraikan salah-satunya, demi memenuhi rasa keadilan,dst. Jika bukan sebagaimana sebagai sarana balas dendam, agar bisa berprikelakuan yang baik.

Dengan pertimbangan keadaan memberatkan wajah saksi korban memar.

“Jadi terdakwa, dalam kurun waktu masa hukuman percobaan, jika melakukan tindak pidana langsung menjalani 2 bulan penjara,” ujar Wally usai membacakan putusan.

Majelis hakim yang mengadili perkara kemudian memberi waktu terhadap terdakwa dan JPU untuk mengambil sikap atas putusan, menerima atau ada upaya hukum lainnya.

Terpisah, usai persidangan terdakwa kemudian mengungkap-kan rasa ketidak-puasan atas putusan yang telah dijatuhkan padanya.

“Ini bukan soal masuk bui atau tidak, tapi keadilannya dimana?. Pasal 351 ayat (1) terbukti dengan visum C . Dimana tidak menimbulkan penyakit atau halangan pekerjaan, itu pembuktian dalam pasal 352 KUHP. Masa dipakai pasal 351 ayat (1)?. Ini bukan hanya akan saya banding tapi akan saya laporkan,” ucap Firmansyah kepada sejumlah awak media di depan Kantor PN.

“Bagaimana mungkin visum 352 untuk tindak pidana ringan. Lantas dipakai , dinyatakan terbukti dalam 351. Sorry !, selama ini saya selalu menghindar dengan media, walaupun surat saya sudah sampai pada Presiden. Saya mengirimkan surat juga permohonan perlindungan hukum dan keadilan.

Kalo begini saya tidak dapat keadilan. Kalo putus Onslag kita masih terima. Kalo begini caranya tidak bisa, kita berhak untuk keadilan. Saya ini seorang pengacara, jika kita tidak bisa bela kita pe diri , jadi siapa lagi ,” tegasnya .

Menurutnya lagi, pledoi atau nota pembelaan yang telah diajukan nya pada majelis hakim ternyata sia sia belaka.

Kata dia, Jika JPU telah salah menerapkan Pasal dalam perkara ini yang pada Surat dakwaan tunggal maupun dalam
Surat Tuntutan-nya pasal 351 ayat (1)
termuat, merujuk kepada Visum Et Repertum korban dengan nomor :
R/1302/VER/XII/2015, tertanggal 23 Desember 2015 yang dibuat dan ditanda-tangani, oleh dr. Fanda Wuisan, selaku Dokter pada RS Bhayangkara Tk.III Manado.

Ada pun dengan hasil pemeriksaan , memar kemerahan di bibir atas sebelah kiri ukuran 1,5 x 1 cm. Bengkak dan kemerahan dikepala belakang ukuran 2x1cm. Kebiruan disiku tangan kanan ukuran 4x4cm.

Kesimpulan, Cedera tersebut di atas disebabkan oleh kekerasan tumpul. Hal ini tidak mendatang-kan penyakit atau halangan untuk menjalankan kewajiban pekerjaan.

Fatalnya lagi, dalam tuntutan JPU dengan dua bulan penjara , salah satu unsur , termuat terdakwa memukul
dengan menggunakan gumpalan tanah yang mengeras (benda keras), diarahkan di bagian wajah saksi Korban, sehingga saksi korban terjatuh, sehingga mata kiri saksi korban bengkak dan lecet.

“Ini janggal dan tidak ada dalam fakta sidang bahkan dalam Visum.Kejadian dalam swalayan, kok dalam tuntutan memukul menggunakan gumpalan tanah. ” tambah Firmansyah.

Lagi ditambahkan, sebagaimana fakta sidang termuat dalam pembelaan, kejadian pada tanggal 23 Desember 2015, pukul 11.00 WITA, telah terjadi tindak pidana penganiayaan bertempat di Swalayan Golden Manado.

Berawal dari adu mulut antara
terdakwa , di-karena-kan Saksi Korban
tersebut tidak mau meminta maaf , setelah dengan sengaja menabrak-kan troli pada kaki terdakwa (Posisi terdakwa didepan saksi korban) justru sebaliknya saksi Korban malah menghina terdakwa dengan mengatakan “So ngana no tu ot*k k*mb*ng” yang merupakan dialek Manado yang artikan secara bebas ke dalam Bahasa Indonesia ”Sudah pasti kamu
ber-ot*k k*mb*ng ”.

Mendengar hinaan tersebut, secara reflek terdakwa pun mengangkat tangan
kanannya untuk menakuti Saksi Korban, namun karena ada yang menahan pundak kiri terdakwa dari belakang, maka badan terdakwa bagian atas, yakni perut ke-atas, masuk ke dalam keranjang belanjan (Troli) yang dipegang oleh saksi Korban , dimana keranjang tersebut kemudian menabrak tubuh saksi korban.

Bahwa akibat dari terjatuhnya terdakwa kedalam keranjang belanjaan (troli) maka dada sebelah kanan mengalami memar kebiruan berukuran 8 x 11 cm.

Terdakwa yang menderita sakit jantung ini,bangun dari dalam keranjang belanja (troli) tersebut karena terjadi angina pektoris (nyeri dada akibat kurangnya darah dan oksigen yang menuju jantung), sementara saksi Korban telah terlentang dilantai.

Dalam perkara ini , terdakwa telah menghadirkan Ahli Forensik dr. Johanis F Mallo S.H.Sp.F. DFM. Dan Ahli Multimedia Brave Angkasa Sugiarso ST MT.

Firmansyah juga meminta majelis hakim agar membebaskanNya dari dakwaan dan tuntutan. (ely)