Perkara Kasus Penipuan Tanah, Jeger Cs Inkrah

Hukrim142 Dilihat

● Korban Pemilik Dealer Lambhorgini Jakarta Johnson Yaptonaga

TOPIKSULUT.COM, MANADO – Persidangan kasus penipuan terhadap korban pemilik dealer Lambhorgini Jakarta Johnson Yaptonaga, dengan tiga terdakwa yang telah diputus majelis hakim Arkanu dkk dalam persidangan lalu, perkara telah memiliki kekuatan hukum tetap alias Inkrah.

Dimana Terdakwa NS alias Nem, MK alias Jeger dan DJ alias Djodi dan Penasehat Hukum (PH) para terdakwa, juga Jaksa Penuntut Umum (JPU) Noval Thaher tidak melakukan upaya hukum lainnya.

“Kami tidak banding atas putusan majelis hakim terhadap para terdakwa. Iya pihak mereka juga tidak banding, jadi sudah Inkah,” singkat Jaksa Thaher ketika ditanyai Topiksulut.com, di PN Manado, Jumat (28/9/2018).

Terpisah, PN Manado melalui Juru bicara, Hakim Vincentius Banar SH MH turut membenarkan.

“Sudah nggak upaya banding. Berarti sudah berkekuatan hukum tetap. Karena Jumat kemaren terakhir pikir-pikir nya ya,” singkat Jubir.

Diketahui sebagaimana dalam putusan Majelis Hakim, Jumat (21/9/18) lalu, terdakwa Nem divonis 1,5 tahun penjara. Sementara Terdakwa Djodi dan Jeger, divonis sama, pidana 1,1 tahun penjara.

Baca juga:  Ini Fakta, Lahan Kantor DPRD Sulut Milik Ahli Waris

Para Terdakwa terbukti secara sah dan bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama melakukan penipuan, sebagaimana diatur dalam pasal 378 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana,

Adapun masing masing sebelumnya, Selasa (18/9/2018) , dituntut dengan pidana penjara, untuk terdakwa NS hukuman 2 tahun dan 6 bulan. Sementara MK dan DJ , pidana dua tahun penjara.

Diketahui, dalam perkara ini, oleh tim penyidik Polda Sulut, dari tangan para terdakwa telah disita sejumlah barang bukti (babuk), diantaranya berupa, mesin genset, kasur , stavol, mesin Dap, lembaran seng , mesin somil, mesin senso, mesin skap, kaleng tener, kaleng cat, seprey, tripleks, pipa pipa paralon, alat tang, pisau cutter, terminal , senter, veteng dan saklar lampu, tiga unit sepeda motor, helm, telpon genggam, mesin tempel, dll, juga tujuh lembaran kwitansi, buku pendaftaran tanah di BPN Manado, sertifikat An Jhohan Kansil.

Serta uang yang diduga terkait langsung dengan tindak pidana yang terjadi , sejumlah Rp1.213 Miliar. Semuanya dikembalikan kepada saksi korban.

Baca juga:  Kasus Penggelapan, Tilep Uang Penjualan Telpon Genggam 245 Juta Warga Malalayang Diadili

Sebagaimana dalam dakwaan JPU, kasus ini terjadi Februari 2018. Saat itu, korban Yapto merupakan teman dari Kapolda Sulut Irjen Pol Bambang Waskito, ingin membeli tanah di pinggiran pantai, di Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken.

Singkatnya, mendengar informasi, terdakwa Jeger menghubungi terdakwa Djodji yang merupakan penjaga tanah berbatasan dengan objek perkara. Terdakwa Jeger dan Djodji segera menghubungi terdakwa Nem, yang mengaku sebagai pemilik tanah.

Kemudian ketiga terdakwa menghubungi korban untuk menjual tanah seluas 13.000m2 dengan harga Rp150.000 per m2.
Namun uang senilai Rp1,95 miliar untuk jual beli tanah tersebut diberikan, terjadi permasalahan.

Saat hendak mengurus penerbitan sertifikat, diperoleh informasi tanah tersebut sudah ada pemiliknya. Sesuai sertifikat akta milik nomor 236 tahun 1984 atas nama Johan Kansil, dengan pemilik terakhir Rudy P Silalahi sesuai Akta Jual beli (AJB) nomor 197/ASR/1984 tanggal 17 oktober 1984. Atas kejadian itu, korban merasa dirugikan. (ely)