DIES NATALIS FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT 28 MEI 2022 : FAJAR MENYINGSING ELANG MENYONGSONG

dr. DOLLY RD KAUNANG, Sp.JP, Sp.KP
Alumnus FK Unsrat nomor 228

Reuni alumni FK Unsrat angkatan ’59 – ‘70 di desa Pandu, Manado Utara, tanggal 26 Mei 2022, menjadi sangat spesial. Penawar rindu hati setelah puluhan tahun tidak bertemu, membangkitkan suasana nostalgik jauh ke masa silam. Lebih dari setengah abad terpisah oleh jarak dan waktu akhirnya melebur menjadi satu, bernama rindu. Apalagi setelah dua tahun dibatasi. Melonggarkan jaga jarak dan kerumunan, terasa plong. Dalam kerinduan kepo melihat rupamu sekarang. Warna atas sudah homogen, lingkar dada dan lingkar perut heterogen. Dalam kerinduan, haruskah kita hidup sendiri tanpa kawan lagi? Banyak teman sejawat telah tiada dan masih banyak tanpa berita. Semua punya kadaluarsa sendiri-sendiri.

Berhasil terhimpun delapan puluh enam wajah metamorfosis. Reuni ini bukan sekedar pertemuan kembali, melainkan momen merasakan masa lalu di masa depan. Menjadi ajang silaturahmi, social gathering. Bahkan dimaknai juga sebagai pencerahan menerawang ujung jalan kiprah almamater.


Monumen Gunung Wenang.
Masa sekarang ada karena ada masa lalu. Walau sudah berselang lebih dari setengah abad, faktanya tidak mudah terlupakan begitu saja kenangan yang sudah tersimpan dalam server otak. Membayangkan bangunan kecil-kecil, tidak bertata-rapih, saling menempel di pebukitan. Itulah kampus hijau Gunung Wenang. Dr.Fietje Sumendap, dengan kursi roda, terbang dari Jakarta saking kangen melepas rindu. Dokter Nam Wulur, berdiri ditopang diki-diki, berbunga ria mengenang masa awal studi yang masih minim fasilitas belajar. Dr.Franky Loprang masih dalam pemulihan operasi tulang belakang rameji keras dari Bandung menuju Pandu. Saat ia tingkat dua dr.FH Palilingan, mantan rektor, pernah mengajar fisiologi dibawah pohon mangga disamping ruang kuliah. Hidup memang tidak selalu indah, namun sesuatu yang indah tetap dalam kenangan.

Terkadang rasa senyum muncul tiba-tiba saat teringat masa kuliah. Teringat ulah dekan Prof.dr.RD Kandou yang sidak rok mini dan rambut gondrong, lain kesempatan ia traktir makan di kantin. Terkenang upaya keras dr.PEA Pangalila, Sp.PD, Pembantu Dekan Bidang Akademik, agar segera lantik dokter pertama. Dr.Reinhard Rampengan, 82 th, berdua dengan dr.JTU Liogu, masih jernih mengenang saat dilantik sebagai alumnus pertama tanggal 1 Februari 1969. Dokter John Kumaat, alumnus no.10, yang menggagas temu nostalgia ini, larut dalam kenangan haru-biru masa lalu. Guru lupa murid, itu biasa! Murid lupa guru, itu keterlaluan! Berkaca-kaca beliau memberi apresiasi terima kasih kepada dr.Oei Yang Hae –sang mahaguru sejati. Kehadiran Dekan FK Unsrat, pun karena hormat dan terima kasih pada guru dan senior.
Reuni dimaknai juga sebagai momentum merekatkan persahabatan ditengah keberagaman generasi.

Baku cari, baku dapa, baku sayang, ungkap lantang Irjen Pol (Pur) dr.Arthur Tampi -Ketua Iluni FK Unsrat. Tatap muka merupakan bentuk komunikasi paling dasar dan paling sempurna, yang memungkinkan kita merasa dekat dengan sesama. Momentum emas memperkuat solidaritas kesejawatan dengan saling peduli, berbagi, dan menghargai. Bahkan kepedulian pada sesama alumni yang dirundung duka telah digagas jauh sebelum reuni. Seratus ribu rupiah prakarsa sembilan supersenior merupakan contoh aktualisasi alumni peduli. Beban hati keluarga yang berkabung diharapkan tidak bertambah berat dengan menerima sumbangan duka.

Menggerakkan spirit peduli pada sesama alumni melalui beri 100 ribu rupiah didorong oleh panggilan etis kesejawatan “sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan.” Peduli pada sejawat adalah kredo profesi. Akhirnya sekelumit stori ini mengingatkan para alumnus bahwa keberadaannya sekarang ini adalah tempat yang memang diperuntukkan baginya.

Entah pekerjaan, entah status, entah posisi, entah kondisi. Entahlah! Semua terjadi karena memang sudah sepantasnya terjadi. Terima kasih pun bagi pihak yang membuka pintu halaman, pintu rumah dan pintu hati menyambut lepas rindu ini, lirih dr. Gina Lalamentik –seniorita supersibuk dibalik sukses reuni ini.

Romantisme reuni para senior ini terasa kurang lengkap karena bukan berlangsung di lokasi mereka digodok dan dibesarkan. Kini, terbersit pesan agar dibuat monumen Gunung Wenang di atas bukit yang kini berdiri sebuah hotel megah.
Bumi berputar zaman beredar Dies Natalis ke-63 FK UNSRAT tanggal 28 Mei 2022 bagi alumni supersenior digugah dengan kenangan kebersamaan awal mula almamater pascapergolakan.

Universitas Permesta bertransformasi menjadi PTM (Perguruan Tinggi Manado), kemudian UNSUT, UNISUT, UNSULUTTENG sebelum mantap dengan nama FK UNSRAT. Melihat masa lalu bukan berarti terperangkap di baliknya. Berada di masa sekarang, sambil melihat masa lalu, membuat semakin bersyukur karena bisa melewatinya dengan baik.

Mengembalikan kenangan saat reuni ternyata mengandung banyak hal yang bisa dipelajari. Bagi segenap sivitas akademika tentu bersukacita mengingatinya. Namun bagi para alumnus, sorak-sorai gembira menikmati rangkaian kegiatan nostalgia lepas rindu, bisa dimaknai secara paradoks. Bangga tapi galau. Bangga dengan pendidikan dokter pada peringkat unggul akreditasi LAM-PTKes. Re-taker makin sedikit, lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter makin banyak. Namun galau dengan esprit de corps alumnus dalam pemilihan rektor yang luluh dan luntur oleh pragmatisme kepentingan. Jiwa korsa padam.

Idealisme dan kekeh pada sesuatu yang benar menjadi nisbi oleh roh oportunistik. Bersedia melakukan apa saja asal ada “opportunity.” Asal ada kesempatan –kapan lagi? Aroma money voting pemilihan rektor yang melanda para alumnus amat sangat mengusik sukma.

Dalam kerumunan tercium bau buang angin, ujar Irjen Pol (Purn) dr.Arthur Tampi. Dekan FK Unsrat tidak lugas membantah keras sebab hanya informal issue yang akan hilang sendiri, gumam Dr.dr.Billy Kepel via tilpon. Persoalan menjadi pelik manakala stigma hedonis ini herediter pada anak didik. Roh jahat ini bakal melahirkan pecundang dan kemunafikan generasi.

Pendidikan kedokteran yang baik adalah pendidikan kedokteran yang memenuhi unsur kompetensi, hubungan baik dokter-pasien/antarsejawat, serta berintegritas budi baik. Generasi pendidik berikutnya seyogianya menyambut pagi penuh semangat. Generasi yang berikat-pinggangkan kebenaran dan berbaju-zirahkan keadilan. Fajar menyingsing Elang menyongsong. Ikhtiar menjalani untung menyudahi. Intelektualitas bukan satu-satunya yang bisa menyelesaikan persoalan. Namun hanya intelektual muda harapan tercurah sebagai agen perubahan. Dirgahayu FK UNSRAT.-

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.