TopikSulut.com
MANADO — Dalam lanskap strategis peringatan HUT ke-80 Proklamasi Kemerdekaan RI, denyut Jalan Piere Tendean, ikon metropolitan Sulawesi Utara, bertransformasi menjadi kanvas ideologis yang memancarkan spirit persatuan. Sabtu (16/08/2025).
Senja itu, di bawah langit Sario Utara yang merona, Aliansi Dosen Akademik dan Kevokasian Seluruh Indonesia (ADAKSI) DPW Sulut memimpin sebuah orkestra sosial yang sarat makna kebangsaan.

Ribuan Merah Putih mini berkibar anggun di tangan masyarakat, bukan sekadar simbol, tetapi manifes kolektif cinta tanah air.
Atmosfer yang lazimnya didominasi deru kendaraan berubah menjadi ritual kebhinekaan, ketika gelombang komunitas bersinergi dalam semangat gotong royong.

Dukungan mengalir dari berbagai elemen strategis—PPWI se-Sulut, Rampai Nusantara, Perwanti, hingga komunitas akar rumput—mengeras sebagai satu narasi: mewujudkan ruang publik yang berkarakter ideologis.
“Ini bukan sekadar distribusi bendera. Ini gerakan untuk menyalakan kembali api persatuan, agar simbol kemerdekaan tidak berhenti pada fisik, tetapi merasuk ke ruang batin,” tegas Ketua PPWI Kabupaten Minahasa Franky Ngantung, dengan nada yang mematri visi kebangsaan.
Senandung patriotisme kian nyata ketika pedagang kecil dan pengemudi ojek online, wajah-wajah proletar perkotaan, menyulam kisah personal dalam arsitektur monumental ini.
Maria, sang penjaja kuliner, menancapkan bendera pada gerobaknya—gestur sederhana yang bermetamorfosis menjadi deklarasi loyalitas warga negara.
Di sisi lain, Ridwan, pengemudi daring, menautkan Merah Putih di spion motornya, menjadikan setiap kilometer perjalanan sebagai perayaan ideologi Pancasila.

Ketika cahaya senja meredup, Boulevard Manado menjelma menjadi galeri merah putih: dari kios kaki lima, spion kendaraan, hingga beranda rumah warga.
Sebuah citra kolektif yang mengafirmasi—bahwa kebanggaan nasional bukan sekadar jargon, tetapi energi sosial yang menembus ruang dan waktu.
Malam pun turun, tetapi resonansi semangat tidak pudar. Di sebuah kafe sederhana, para inisiator dan simpul komunitas meramu strategi ke depan.
Di antara aroma kopi dan diskursus hangat, satu konklusi menguat: Merah Putih bukan hanya kain dua warna, tetapi narasi sejarah yang terus diperbarui dalam denyut kehidupan bangsa.
☆/






