Amas Mahmud
Alumni FISPOL Unsrat
DUA momentum yang cukup mengharuskan kita bersabar. Bukan menguras kesabaran, melainkan melatih umat manusia agar bersikap sabar. Kesabaran untuk menjalani ibadah di bulan suci ramadhan tidak mudah. Seperti itu pula dengan kesabaran menghadapi wabah penyakit (Corona Virus). Berpuasa di tengah-tengah pandemi Corona tidaklah mudah. Besar cobaannya memang.
Misalnya saja untuk kebutuhan mencari nafkah, keperluan mencukupkan dapur karena Corona aktivitas perekonomian masyarakat dibatasi. Waktu beroperasinya masyarakat ketika beraktivitas di ruang publik menjadi terbatas. Belum diterapkannya PSBB pun begitu mulai ketatnya. Puasa bagi umat Islam telah dianjurkan dalam Al-qur’an.
Hari orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa (Al-quran Surat Al-Baqarah : 183). Artinya pada tafir theology tak perlu kita perdebatkan lagi. Sudah menjadi terang benderang. Tugas umat manusia adalah menjalankannya, bagi pemeluk agama yang meyakini Al-qur’an tentunya.
Nah, menjadi menantang adalah seperti pelaksanaan shalat Tarawih, witir berjamaah dan juga shalat jumat berjamaah di masjid. Di ramadhan 1441 Hijriah, suasana kebersamaan religius itu hilang. Tereduksi karena pemerintah telah memberikan imbauan, anjuran, membatasi dan meniadakan aktivitas di rumah ibadah disaat pandemi. Hal itu memerlukan kesabaran kita menghadapinya.
Artinya bila tidak sabar, soal tafsir dan instruksi pemerintah boleh jadi memunculkan persoalan serius. Puasa kali ini sepertinya memerlukan pemakluman situasi sosial, kebijakan pemerintah sekaligus membutuhkan kompromi yang lebih. Tidak seperti lazimnya puasa-puasa yang sebelumnya. Bulan puasa kali ini penuh ‘’kesepian’’ rumah ibadah. Walau pun ada, di beberapa masjid jamaah ngotot melaksanakan ibadah tarawih berjamaah, itu juga menjadi fenomena yang jarang kita dapati.
Belum lagi, angker dan menakutkannya wabah Corona yang begitu massif diberitakan. Ikut menambah beban pikiran, kepanikan dan kecemasan publik. Hal yang menyangkut dengan framing pemberitaan Corona juga kiranya perlu dipertimbangkan untuk diturunkan kadarnya. Biar masyarakat tenang dan tidak ketakutan berlebihan terhadap Corona.
Selanjutnya, sebagaimana dalam Al-qur’an juga dijelaskan bahwa orang-orang sabar memperoleh berkah yang sempurna, rahmat dan petunjuk (Surat Al-Baqarah: 155). Seperti itulah keagungannya mereka yang bersabar dalam perspektif keyakinan umat Islam. Tapi, apakah semua mereka umat Islam yang menjalankan puasa bersabar?. Allah maha tahu yang benar dan yang sebenarnya.
Sekilas kita belajar dari interaksi keseharian, tergambarkan tidak semua umat Islam juga berharap menghadapi cobaan. Dalam suasana bahagia maupun sulit, kesabaran itu diperlukan. Walau begitu kebanyakan kita alpa atau lalai, khilaf mempertahankan kesabaran dalam hidup secara rutin. Ada yang melakukannya, benar. Ada yang tidak istiqomah melakukannya, pokoknya bervariasi. Seperti itulah manusia yang punya plus-minus.
Allah SWT juga mengingatkan kita dalam Al-qur’an Surat Ali ‘Imran : 200 yang artinya hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkan kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan terapkan cara meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah, supaya kamu beruntung. Sabar itu mudah diucapkan, banyak kita temukan di mimbar ketika Ustad ceramah, podium saat politisi pidato, tapi tidak mudah menjalankannya.
Apalagi seseorang yang dilanda amarah, penuh emosi dank arena kondisi tertentu, kesabaran tak lagi dijadikannya sebagai senjata. Melainkan sikap marah-marah, tidak bermoral dan kekerasan, padahal kata Almarhum Gus Dus, sabar itu tak ada batasnya. Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu, itu perintah dalam Qur’an Surat Al-Baqarah : 153.
Umat Islam dunia, Indonesia dan khususnya di Kota Manado kini yang berpuasa di Ramadhan 1441 Hijriah harus diakui mereka penuh rasa risau. Tidak seperti kondisi sebelumnya. Mereka selain khawatir penyebaran Corona, juga risau kalau di rumah saja (ikut mau pemerintah), maka kelaparan datang merenggut nasib mereka. Tentu dalam situasi yang dilema itu masyarakat tak boleh juga pasrah. Mereka harus terus-meneruh berikhtiar. Jalan satu-satunya adalah ‘’menabrak’’ anjuran stay at home, apalagi bantuan pemerintah tak kunjung datang.

