Sita Eksekusi Bank Bukopin, Penghiburan Balderas: Masih (Lagi) Tidak Melaksanakan Putusan, Aset Dilelang

TOPIKSULUT.COM, MANADO – Kuasa Hukum pemohon eksekusi, Penghiburan Balderas SH MH mengatakan sita eksekusi terhadap PT Bank Bukopin selaku termohon eksekusi berdasarkan tiga putusan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht) . Hal ini dilakukan karena pihak termohon tidak melaksanakan isi putusan mengembalikan uang sekitar Rp14.5 Miliar.

Sebagaimana putusan Pengadilan Negeri (PN) Manado, no : 458/Pdt.G/2014/PN.Mnd, diperkuat dalam putusan Pengadilan Tinggi (PT) Manado no:75/Pdt/2016/PT.Mnd ,serta putusan tingkat kasasi ke Mahkamah Agung RI No. 3047 K/Pdt/2016.

“Adapun Aset aset yang kami mohonkan, PT Bank Bukopin yang terletak di Jalan Piere Tendean -Boulevard, dalam surat penetapan PN , tanah serta bangunan bersertifikat hak milik Bank Bukopin, dan empat unit mobil jenis Toyota Avansa disita,” terang Balderas , baru baru ini.

“Sebelumnya sudah ada pemberitahuan ke pihak Bank. Ini sudah tahap kedua, pada Agustus 2018 sudah ada Aanmaning , Surat Peringatan, dua kali yang dikeluarkan KPN , agar pihak termohon untuk melaksanakan putusan secara sukarela, namun sampai dengan waktu yang ditentukan, termohon eksekusi tidak mengindahkan teguran tersebut,  Sehingga tahapan selanjutnya dengan cara pengadilan men-sita aset aset dari Bank Bukopin,” jelas Balderas.

Menurutnya, usai sita eksekusi ini , akan eksekusi rill , untuk selanjutnya aset akan dilelang menutupi kerugian.

“Ketika pihak Bank tidak beritikad baik , bertetap berkeras kepala, tidak melaksanakan isi putusan , maka kami akan lakukan eksekusi riil. Dengan permohonan pada pengadilan, kemudian aset milik Bank Bukopin dilelang untuk menutupi kerugian yang dialami klien kami,” tegas Balderas.

“Secara pokok kerugian yang dialami klien kami Rp7.8 Miliar , dan setelah kerugian diperhitung-kan dalam putusan yang berkekuatan hukum tetap , pihak Bank harus membayar pada klien kami Rp14.5 Miliar,” sambungnya.

Sekedar diinformasikan, saat pembacaan surat sita eksekusi oleh Juru sita PN yang turut disaksikan Panmud Perdata, serta kelurahan setempat, Rabu (21/11/2018) , pihak Bank Bukopin Kacab (Kepala Cabang) Riza Novian memilih tidak mendengarkannya, meninggalkan ruangan dan kembali lagi usai surat dibacakan, bahkan menolak untuk menanda-tangani surat berita acara penyitaan.

Diketahui, Dewi menggugat pihak Bank Bukopin secara perdata , berdasarkan adanya putusan pidana terhadap karyawan Bank Bukopin , Junaidy Mahapena.

Kasus ini berawal di tahun 2012, karyawan Bank Bukopin, Junaidy mendatangi pengusaha Dewi dan menawarkan menjadi nasabah prioritas dengan tawaran bunga bank yang men-giurkan.

Singkatnya, Dewi pun tertarik dan mendatangi Bank Bukopin dan langsung mengisi formulir secara online nasabah, dan disetorkan Rp300 juta.

Sebagai nasabah prioritas, setiap kali penyetoran, uang dijemput petugas Bank Junaidy dan disertai tanda bukti deposito. Dalam kurun dua bulan, 12 kali penyetoran keseluruhan sejumlah Rp7.8 Miliar.

Awal November , jatuh tempo pencairan, Dewi menghubungi Junaidy. Namun, Junaidy meminta waktu dan beralasan sedang diproses Kantor Pusat.

Dewi curiga tak kunjung ada pencairan , lantas mengecek langsung ke Bank Bukopin dan ternyata uang miliknya tidak masuk dalam sistem bank.

Dan pada Desember 2013, Dewi kemudian melaporkan kasus ini agar diproses hukum ke Polda Sulut. Selanjutnya dalam persidangan , vonis Pengadilan Negeri Manado oleh Majelis Hakim yang mengadili, terdakwa Junaidy divonis bersalah, sebagaimana dalam undang undang perbankan, dan dijatuhi hukuman 14 tahun penjara. (Ely)