
Topiksulut.Com_ Ketua Komisi IX Felly Esterlita Runtuwene bersama Balai Penagawas Obat dan Makanan (BPOM) Manado menggelar sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Obat dan Makanan, bagi warga Kecamatan Tumpaan, (13/04)
Ketua Komisi IX DPR-RI FER kepada awak media menyampaikan untuk saat ini yang menjadi prioritas dalam pembangunan nasional adalah Maslah Stunting.
“Yang kami bawakan dalam kegiatan ini yang menjadi prioritas adalah tentang Stunting sesuai Perpres nomor 72 tahun 2021.Perpres ini tentang bagaimana menuntaskan Stunting di Indonesia yang sesuai data dari 2018 sekitar sekitar 28% dan bagaimana nanti di 2024 bisa menjadi 14% bahkan klo bisa lebih turun dari itu,Perlu diketahui banyak negara dalam menuntaskan Stunting cukup lama contohnya Brasil mereka dari 30% dituntaskan dalam waktu 30 tahun nah untuk Indonesia sendiri cukup cepat “Jelas Ketua Komisi IX
Sementara itu FER sendiri menjadi Nara sumber dalam kegiatan bersama BPOM menyampaikan
“Cerdas memilih obat dan pangan aman. Dengan harapan masyarakat menjadi konsumen yang cerdas dengan menerapkan cek kemasan, cek label, cek izin edar dan cek kedaluwarsa (KLIK),” ujar FER
Tidak hanya itu FER juga mengingatkan sejumlah bahan makanan yang mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan seperti formalin, boraks, Rhodamin B dan Methanil Yellow.
“Boraks itu bahayanya adalah menyebabkan gangguan otak, hati dan ginjal. Formalin efeknya membuat mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar yang ujung bisa merusak jantung, otak dan sistem saraf. Sementara Metanil kuning dan Rhodamin B jika terjadi akumulasi bisa menyebabkan kanker,” ungkap Felly
Diketahui makanan dan obat berdampak pada pertumbuhan fisik dan kesehatan tubuh. Maka dari itu menurut Ketua Komisi IX DPR RI ini pola asuh dan perbaikan gizi menjadi salah satu bagian penting yang tidak boleh diabaikan. Kebiasaan kurang memperhatikan pola asuh dan gizi ternyata berdampak pada terjadinya stunting.
“diketahui penyebabnya ada tiga. Pertama pola makan. Ini lebih disebabkan karena rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi. Kedua pola asuh, faktor ini dipengaruhi pada aspek perilaku pola asuh yang kurang baik pada pemberian makanan anak dan balita, dan yang ketiga soal sanitasi dan rendahnya akses air dan pelayanan kesehatan,”
Untuk mencegah stunting bisa ditempuh dengan tiga startegi pertama, perbaiki gizi dan pola makan, edukasi pola asuh sejak mengandung dan menyusui, peningkatan sanitasi dan akses air bersih serta pelayanan kesehatan.
Sementara itu pihak BPOM sendiri mengatakan perlunya memastikan konsumsi pangan yang sehat serta banyak konsumsi buah dan sayur untuk meningkatkan asupan vitamin dalam rangka meningkatkan daya tahan tubuh. (Hemsi)



