Peliput: Fitri Lumiu
Tahuna-
Proyek tanggap darurat perbaikan talud pantai pengaman Boulevar Tahuna dipertanyakan warga. Pasalnya bobot batu boulder yang saat ini mulai diturunkan dari tongkang di kawasan Kelurahan Tidore Kecamatan Tahuna Timur dinilai terlalu kecil kapasitasnya untuk digunakan sebagai boulder.
Hal ini mengundang protes dari kalangan masyarakat yang ada, seperti halnya yang diungkapkan oleh Juru Bicara LSM Merah Putih Nader Baradja.
Menurutnya, batu boulder yang sudah mulai diturunkan dari tongkang saat ini terlalu kecil dan sangat tidak memenuhi standar sebagai boulder.
“Pada musim barat, wilayah teluk Tahuna termasuk kawasan boulevard Di Tidore menjadi sasaran utama gelombang. Sehingga untuk perbaikannya haruslah diperhitungkan penggunaan materialnya termasuk bobot material batu boulder”,ujar Baradja.
Kalau melihat batu boulder yang ada saat ini samgatlah tidak sesuai dengan spek. Sebab batu boulder yang pada pembangunan awal justru lebih besar ketimbang dari batu boulder proyek tanggap darurat sekarang ini.
“Kalau tidak salah, untuk bobot batu bolder minimal ukurannya 1 meter persegi. Bukan seperti saat ini justru cocok untuk batu pondasi bangunan”,jelasnya kembali.
Olehnya Baradja yang notabene juga adalah warga Kelurahan Tidore ini meminta pihak yang berkompeten agar secepatnya melakukan pengawasan terkait penggunaaan material proyek pemerintah yang mulai nyata dugaan penyimpangannya.
“Baiknya pemerintah maupun pihak yang berkompeten segera melakukan tindak lanjut dugaan penyimpangan awal proyek tanggap darurat dengan anggaran mencapai miliarn rupiah ini”,imbuhnya.
Sangat disayangkan sampai berita ini diturunkan, pihak ketiga atau kontraktor pelaksana pekerjaan tidak bisa dihubungi. Demikian dengan sejumlah pekerja ketika dikonfirmasi awak media menolak memberikan penjelasan dengan alasan bahwa proyek ini masih dalam proses administrasi. Untuk posisi saat ini pihak ketiga baru memobilisasi material proyek dari luar daerah Sangihe.(*).






