TopikSulut.com
Minahasa — Pemerintah Kabupaten Minahasa kembali mencatat sejarah yang mengguncang panggung akuntabilitas nasional. Dalam atmosfer sakral Ibadah Oikumene Bulan Juli yang digelar di Gedung Wale Ne Tou Tondano, Kamis (3/7/2025).

Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kembali dikantongi atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2024 — sebuah pengakuan resmi dari BPK RI Perwakilan Sulawesi Utara atas kredibilitas tata kelola keuangan Minahasa.
Namun, perayaan WTP kali ini jauh dari seremoni biasa. Di tangan Bupati Robby Dondokambey, S.Si., M.AP., panggung ibadah berubah menjadi altar deklarasi integritas.
Dengan lugas dan penuh semangat, Dondokambey menyampaikan bahwa WTP bukan sekadar capaian administratif, tapi buah dari birokrasi yang hidup dalam nilai iman, disiplin, dan kebersamaan.

“Minahasa tidak sekadar tertib angka, tapi tertib hati dan semangat. Kita bukan hanya membangun neraca, kita membangun nurani,” ujar Bupati dalam sambutan penuh daya spiritual dan moralitas tinggi.
Disaksikan oleh para tokoh strategis seperti Sekda Dr. Lynda Watania, Ketua DPRD Drs. Robby Longkutoy, Wakapolres Kompol Fenty Kawulur, serta perwakilan Dandim dan Kejari, momen ini menjadi sinyal tegas bahwa reformasi birokrasi Minahasa berakar dari spiritualitas, bukan sekadar sistem.

Bupati Dondokambey bahkan menyisipkan sebuah pantun syukur, disusul kutipan Mazmur 126:3 — “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.” Ayat ini tidak hanya menjadi dasar liturgis, tapi juga pijakan filosofis dari arah pemerintahan yang ia pimpin: akuntabel secara teknis, bersandar secara rohani.

Pencapaian WTP ini ditegaskan sebagai bukti nyata bahwa Pemkab Minahasa menolak jadi birokrasi stagnan. Di bawah kepemimpinan Dondokambey, semangat pelayanan publik menyala dalam dua nyala suci: iman dan integritas.
“Kita bukan sedang mengejar penghargaan, kita sedang membangun generasi birokrasi yang bernyawa—yang menjadikan Tuhan pusat dari seluruh pengabdian.”

Minahasa hari ini bukan hanya bicara transparansi, tapi juga transformasi. Dan dari altar ibadah itulah, sebuah pesan keras disuarakan ke seluruh penjuru negeri: akuntabilitas sejati hanya lahir dari birokrasi yang menyatu dengan nilai ilahi.
#J.R






