Gerakan pemilih parsitipatif untuk pilkada 2020 berkualitas kian gencar dilakukan KPU Manado

TOPIKSULUT.COM, MANADO – Gerakan pemilih parsitipatif untuk pilkada 2020 berkualitas kian gencar dilakukan KPU Manado.

Maklum, KPU Manado mematok angka daftar pemilih tetap (DPT) yang mencoblos di Pilkada 2020 minimal 75 persen.

Mereka membawakan tema Pendidikan Pemilih untuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Walikota dan Wakil Walikota Manado Tahun 2020 untuk Basis Keagamaan, pada Kamis (8/10) di Hotel Quality Manado.

Dr Delmus P Salim

Para audiens perwakilan tokoh agama di Manado.

Ketua KPU Kota Manado, Jusuf Wowor menyampaikan bahwa ini merupakan sesi kedua.

Yang pertama lewat basis perempuan yang digelar pagi. Yang kedua basis keagamaan.

“Terkait agenda sosialisasi ini kalau kita tidak hadir sangat disayangkan. Untuk itu kepada bapak ibu undangan yang sudah hadir agar menggunakan kesempatan sebagai tokoh agama,”tandas Wowor.

Baca juga:  Penggugat Hadirkan Mantan Pala & Mantan Karyawan, Gugatan Hibah Ahli Waris di Pal Dua Kian Terang.

Dr Taufik Pasiak menyampaikan bahwa perilaku manusia turut menentukan tanggung jawab partisipasi pilkada dalam indeks kerawanan pemilu.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya.

Di antaranya adalah sosial dan politik, dan dalam indeks kerawanan pemilu relasi kuasa di tingkat lokal adalah tokoh agama itu sendiri.

Terori membuktikan bahwa lingkungan agama dapat mempengaruhi indeks kerawanan pemilu, dan indeks kerawanan pemilu di Sulut menempati posisi paling atas.

“Dorangan mendapatkan keamanan dan kenyamanan adalah dorongan yang paling inti pada manusia. Sehingga sebagai tokoh agama dalam agenda pilkada di Kota Manado harus menjaga integritas dan harga diri, sebab peran tokoh agama dalam pelaksanaan Pilkada sangatlah penting.” tegas taufik dalam penyampaian materinya.

Baca juga:  Sidang Pembunuhan Joel Tanos, JPU Tuntut Terdakwa Penjara Seumur Hidup

Delmus Puneri Salim PhD menyampaikan, untuk partisipasi politik banyak diwujudkan dalam beberpa bentuk.Satu partisipasi dalam pemilihan Pilkada Sulut.

Namun Delmus membandingkan isu hoax dan SARA di Sulut mendapatkan peringkat paling rendah dibanding kabupaten Kota lain.

Partisipasi politik kita dapat diwujudkan dalam beberpa bentuk kritikan, lawan politik uang, sampai pada situasi keadaan covid-19 saat ini.Kritik akan menghasilkan solusi bagi tokoh-tokoh agama. Harus diingatkan peran vital tokoh agama.

Karena keberpihakannya kepada salah satu calon makan akan mempengaruhi opini masyarakat. “Sekarang bagaimana kita melihat keberpihakan kepada salah satu calon yang lebih elegan. Kita berharap politik identitas beragama tidak terjadi pada tokoh-tokoh agama. Kita tidak ingin memposisikan tokoh agama tersudut atau termarjinalkan.” tegasnya.(TS/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *