Tamuntuan Hadiri Pesta Adat Tulude di Jemaat Bukit Kasih Eneratu, Berikan Sambutan Gunakan Sastra Sangihe

Peliput: Fitri Lumiu

TAHUNA
Masi dalam suasana perayaan Hari Ulang Tahun Daerah Kepulauan Sangihe, yang dirangkaikan dengan perayaan upacara adat Tulude, kali ini Jemaat Bukit Kasih Eneratu berkesempatan menggelar peryaan Tulude yang dihadiri langsung Penjabat (Pj), Bupati Sangihe dr Rinny Silangen Tamuntuan.

Dilaksanakan digedung Gereja Bukit Kasih Eneratu pada Jumat (3/2/2023). Pesta adat Tulude merupakan wahana untuk mengaktualisasikan nilai-nilai luhur, guna memaknai berbagai dimensi kehidupan masyarakat, sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk membawah daerah ke arah yang lebih baik, lebih maju dan berkualiatas.

Berbeda dengan perayaan Tulude yang telah berlangsung sejak 31 Januari 2023, kali ini Pj Bupati menyampaikan sambutanya dengan menggunakan bahasa daerah Sangihe.

Mulai dari menyapa tamu undangan hingga menjelaskan makna Tulude, Tamuntuan dengan baik menjelaskan dengan menggunakan bahasa Sangihe.

“Taku Leadateng Tembonang dingangu kebi Majelis pekerja Sinode GMIST,” sapa Tamuntuan yang dapat diartikan, yang saya hormati Piminan dan semua Majelis pekerja Sinode Gmist.

Kemudian dirinya menjelaskan makna Tulude yang sangat mendalam dan sakral yakni mensyukuri, Permohonan, dan menyerahkan.

“Makitarimakase su alamate dingangu kakendagi ghenggonalangi su kanandung pebiaheng taung tamai naliu,” ucap Tamuntuan dengan arti mensyukuri segala berkat Tuhan yang telah dikaruniakan disepanjang tahun baru berlalu.

Kemudian dilanjutkan dengan makna Tulude memohon ampun atas segala kesalahan serta semua dosa yang perna dilakukan dalam perjalanan waktu menjalani hari-hari kehidupan sepanjang tahun yang silam.

“Mededorong ampung su pesasala dingangu ralawang kekoateng sutaung tamai napagohe,” Kata Pj Bupati perempuan pertama di Sangihe.

Dilanjutkanya dengan makna yang ke tiga, menyerahkan dan memohon penyertaan Tuhan dalam kelanjutan hidup dan pengabdian di tahun yang baru, yang sedang di jalani sekarang ini.

“Menarakang dingangu mededorong seghenggona mambeng tatape dumendingang su pebawiahe dingangu petatangkiang su taung seng dedalengang ini,” Kata Tamuntuan yang dikesempatan tersebut menggunakan baju adat sangihe laku Tepu dan boto pusige.

Nuansa kebudayaan begitu kental dan terasa Tak kalah sajian makanan sebagai ungkapan syukur didominasi dengan menyajikan makanan khas daerah sangihe seperti sagu dan makanan khas lainya, serta penggunaan batok kelapa sebagai wadah tempat makanan.(*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *